Ditanya: kesimpulan dari percobaan? Jawab : Berdasarkan data pada tabel, peningkatan volume zat cair saat suhu dinaikkan berbeda-beda bergantung pada jenis zat cairnya. Pada data tersebut, alkohol memiliki peningkatan volume terbesar, dilanjutkan dengan minyak goreng, dan yang terakhir atau yang memiliki peningkatan volume paling kecil adalah air.
Kalaudata tersebut kita sajikan dalam bentuk tabel baris dan kolom, hasilnya akan berupa contoh tabel frekuensi seperti ini. b. Tabel Kontingensi. Berbeda dengan tabel baris dan kolom, tabel kontingensi adalah tabel yang datanya memiliki lebih dari satu kategori/kelompok. Contoh tabel kontingensi, bisa kita lihat pada data gambar di bawah ini. Di gambar tersebut, diketahui data jumlah siswa kelas 7 berdasarkan jenis kelaminnya.
A rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas b. berdasarkan masalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya tolong jawabbbbbb pleaseee
Berdasarkanmasalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya Kesimpulanya adalah benda-benda akan memuai (mengalami penambahan volume) bila benda tersebut dipanaskan. Ini terlihat dari peningkatan volume seiring peningkatan suhu.
Halini tidak menjadi masalah, asalkan pemberian definisi tersebut harus sesuai dengan bentuk umumnya. Jadi, kesimpulannya, tabel frekuensi merupakan sebuah tabel yang berisi nilai-nilai data, dengan nilai-nilai tersebut dikelompokkan ke dalam interval-interval dan setiap interval masing-masing mempunyai frekuensinya.
C negara A dan negara B mengalami pembangunan ekonomi D. negara A dan negara B mengalami pertumbuhan ekonomi E. negara A dan negara B tidak mengalami pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Pembahasan: Kesimpulan yang tepat berdasarkan tabel tersebut adalah negara A mengalami pertumbuhan ekonomi, sedangkan negara B mengalami pembangunan ekonomi.
L41M. Variabel berasal dari kata “vary” dan “able” yang berarti “berubah” dan “dapat”. Jadi, secara harfiah variabel berarti dapat berubah, sehingga setiap variabel dapat diberi nilai dan nilai itu berubah-ubah. Nilai tersebut bisa kuntitatif terukur dan atau terhitung, dapat dinyatakan dengan angka juga bisa kualitatif jumlah dan derajat atributnya yang dinyatakan dengan nilai mutu. Variabel merupakan element penting dalam masalah penelitian. Dalam statistik, variabel didefinisikan sebagai konsep, kualitas, karakteristik, atribut, atau sifat-sifat dari suatu objek orang, benda, tempat, dll yang nilainya berbeda-beda antara satu objek dengan objek lainnya dan sudah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Karakteristik adalah ciri tertentu pada obyek yang kita teliti, yang dapat membedakan objek tersebut dari objek lainnya, sedangkan objek yang karakteristiknya sedang kita amati dinamakan satuan pengamatan dan angka atau ketegori nilai mutu tertentu dari suatu objek yang kita amati dinamakan variate nilai. Kumpulan nilai yang diperoleh dari hasil pengukuran atau penghitungan suatu variabel dinamakan dengan data . Karakteristik yang dimiliki suatu pengamatan keadaannya berbeda-beda berubah-ubah atau memiliki gejala yang bervariasi dari satu satuan pengamatan ke satu satuan pengamatan lainnya, atau, untuk satuan pengamatan yang sama, karakteristiknya berubah menurut waktu atau tempat. Apabila karakteristik setiap satuan pengamatan semuanya sama, tidak beragam, maka bukan lagi merupakan variabel, melainkan konstanta. Contoh Apabila Anda sedang mempelajari sekelompok anak-anak, anak-anak di sana baru sebuah konsep, bukan variabel. Apabila Anda tertarik untuk mengukur tinggi badannya, berat, usia, menentukan jenis kelamin, dan sebagainya, berarti Anda sudah berbicara tentang variabel, karena nilainya bisa beragam dari anak ke anak. Untuk kepentingan penelitian, sebuah konsep bisa diubah menjadi satu atau beberapa variabel. Misalnya saja tentang konsep anak-anak tadi, di antara sekian karakteristik yang bisa diukur, Anda lebih tertarik untuk menimbang beratnya, maka Konsep adalah properti/karakteristik dari Anak-anak Karakteristik karakteristik yang sedang Anda amati adalah berat anak . Variabel karena berat setiap anak bisa bervariasi, maka berat merupakan variabel. Satuan pengamatan satuan pengamatannya adalah masing-masing Anak setiap individu, dan Nilai variate/information berat yang terukur dari setiap anak dinamakan variate nilai. Contoh kasus lain misalnya, jika Anda sedang mempelajari sekelompok tanaman tomat konsep, variabel-variabel berikut mungkin menjadi pertimbangan Anda tinggi, lebar, jumlah daun, dan jumlah buah, dan berat tomat. Contoh variabel lainnya adalah warna mata, IQ, tingkat pendidikan, status sosial, metode mengajar, jenis pupuk, jenis varietas, jenis obat, semuanya adalah variabel karena karakteristiknya berbeda-beda. Karakteristik dari suatu variabel harus beragam atau berubah-ubah. Sebaliknya, jika karakteristik semuanya sama, maka satuan pengamatan tersebut bukan lagi variabel, melainkan konstanta. Konstanta adalah angka tertentu yang nilainya selalu tetap pada semua kondisi, misalnya kecepatan cahaya, gaya gravitasi, dsb. Namun demikian, suatu variabel bisa saja menjadi konstanta apabila nilainya di buat sama. Misalnya, jenis kelamin adalah variabel, namun apabila satuan pengamatan yang kita amati hanya dibatasi pada jenis kelamin perempuan saja, maka jenis kelamin berubah menjadi konstanta, karena nilainya sama pada semua kondisi. Definisi Operasional Definisi operasional adalah aspek penelitian yang memberikan informasi atau petunjuk kepada kita tentang bagaimana caranya mengukur suatu variabel. Informasi ilmiah yang dijelaskan dalam definisi operasional sangat membantu peneliti lain yang ingin melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama, karena berdasarkan informasi itu, ia akan mengetahui bagaimana caranya melakukan pengukuran terhadap variabel yang dibangun berdasarkan konsep yang sama. Dengan demikian, ia dapat menentukan apakah tetap menggunakan prosedur pengukuran yang sama atau diperlukan pengukuran yang baru. Konsep-konsep yang sudah diterjemahkan menjadi satuan yang sudah kita anggap lebih operasional variabel dan konstruk, biasanya belum sepenuhnya siap untuk diukur. Karena variabel dan konstruk tersebut memiliki alternatif dimensi yang bisa diukur dengan cara berlainan. Contoh tentang variabel usia/umur. Cara pengukuran variabel tersebut bisa saja berbeda, pertama mungkin Anda mengukur usianya langsung secara numerik, misalnya 4, xviii, 31 tahun dst, atau bisa saja Anda mengukur berdasarkan kategori, misalnya Balita 0-5 thursday, Anak-anak 5 – 14, Remaja 14 – 24, Dewasa 25 – 54, Tua 55-64, dan Lansia >65 tahun. Pembagian Variabel Variabel bisa dibagi berdasarkan Perananan, cara pengukuran, dan bisa tidaknya diukur secara langsung. Berdasarkan Fungsi/Peranannya dalam penelitian Dalam penelitian kuantitatif, variabel yang telah didefinisikan secara operasional, biasanya dibagi menjadi variabel bebas independent aktif atau atribut, variabel terikat dependent, dan variabel asing/ekstra/tambahan extraneous yang bukan merupakan subjek dari penelitian yang sedang dipelajari dan berada di luar pengamatan/kajian utama penelitian. Pemahaman tentang variabel extraneous ini sangat penting, karena variabel ini bisa saja bersaing dengan variabel contained dan bisa mengacaukan/membingungkan dalam menjelaskan pola hubungan antara variabel independent dan variabel dependent. Oleh karena itu, dalam menentukan hubungan sebab akibat, kita seharusnya mengidentifikasi ada tidaknya variabel extraneous yang terbukti dapat mempengaruhi variabel dependent. Apabila ada, maka variabel ekstraneous tersebut disebut dengan variabel confounding. Variabel Confounding sebaiknya di kontrol atau dimasukkan ke dalam model. Apabila tidak, kita tidak akan yakin bahwa perubahan variabel dependent tersebut hanya disebabkan oleh variabel independent saja. Untuk memahami variabel-variabel dalam penelitian, perhatikan contoh kasus berikut Apabila kita ingin melihat pengaruh pemberian dosis pupuk yang berbeda terhadap pertumbuhan tanaman, maka Variabel Dependent => Pertumbuhan tanaman Variabel Independent => Dosis Pupuk Variabel Extraneous => Varietas/Kultivar Jenis Pupuk Tingkat Kesuburan Tanah Jenis Tanah Ukuran Petak/Pot Penyinaran Matahari Temperatur Kelembaban Kandungan Air Tanah Serangan Hama/Penyakit dsb.. Variabel Contained IV. Variable contained adalah variabel yang merupakan penyebab atau yang mempengaruhi variabel dependent DV atau yang menyebabkan terjadinya variasi bagi variabel dependent DV. Apabila variabel Iv berubah, maka variabel DV juga akan berubah. Variable independent merupakan variable yang faktornya diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi. Jika diterjemahkan dalam bahasa Republic of indonesia, variabel independent disebut juga sebagai peubah bebas dan sering juga disebut dengan variable bebas, stimulus, faktor, handling, predictor, input, atau antecedent. Sebagai Contoh Pengaruh metode mengajar terhadap Prestasi siswa. =>Variabel independent adalah Metode Mengajar. Pengaruh Pupuk Organik terhadap hasil tanaman tomat. =>Variabel independent adalah Pupuk Organik. Metode mengajar dan pupuk organik bisa dimanipulasi atau ditentukan oleh peneliti. Tidak semua variabel contained bisa dimanipulasi, misalnya attribute yang sudah melekat pada suatu objek. Contohnya Jenis Kelamin, Usia, Kemiringan lereng, ketinggian tempat, dsb. Variabel Dependent DV. Variable dependent merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat dari variabel contained. Variabel dependent, dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai peubah tak bebas, variabel terikat, tergantung, respons, variabel output, criteria, atau konsekuen. Variabel ini merupakan fokus utama dari penelitian. Variabel inilah yang nilainya diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh dari variabel independent. Nilainya bisa beragam dan tergantung pada besarnya perubahan variabel independent. Artinya, setiap terjadi perubahan penambahan/pengurangan sekian kali satuan variabel independen, diharapkan akan menyebakan variabel dependen berubah naik/turun sekian satuan juga. Secara matematis, hubungan tersebut mungkin bisa digambarkan dalam bentuk persamaan Y = a + bX. Misalnya, Y = Hasil ton dan 10 = pupuk Urea kg, maka setiap pupuk urea dinaikkan/atau diturunkan sebesar b kg, maka hasil naik/turun sebesar b ton dan apabila tidak di berikan pupuk b=0, maka hasilnya adalah sebesar a ton. Pola hubungan antara kedua variabel tersebut bisanya di kaji dalam penelitian asosiasi atau prediksi, biasanya diuji dengan menggunakan Analisis Regresi. Berbeda dengan contoh pengaruh metode mengajar terhadap keberhasilan siswa, skala pengukuran variabel independentnya bukan merupakan variabel interval atau rasio, sehingga untuk melihat pengaruh dari variabel independet terhadap variabel dependent lebih tepat dengan menggunakan Analisis Varians ANOVA. Dengan Anova tersebut kita bisa menentukan ada tidaknya perbedaan diantara metode mengajar, dan apabila ada, kita bisa menentukan metode mengajar yang lebih baik atau terbaik. Varibel Moderator Variabel moderator merupakan variabel khusus dari variabel independent. Dalam analisis hubungan yang menggunakan minimal dua variabel, yakni satu variabel dependen dan satu atau beberapa variabel independen, adakalanya hubungan di antara kedua variabel tersebut dipengaruhi oleh variabel ketiga, yaitu faktor-faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model statistik yang kita gunakan. Variabel tersebut dinamakan dengan variabel moderator. Variabel moderator ini adalah variabel lain yang bisa memperkuat atau memperlemah hubungan antar variabel independen bebas dan variabel dependen tak bebas. Dalam Analisis Varians Anova, pengaruh dari variabel moderator ini bisa direfresentasikan sebagai pengaruh interaksi antara variabel independent faktor utama dengan variabel moderator Baron and Kenny, 1986 p. 1174. Variabel ini bisa diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk mengetahui apakah keberadaannya akan mempengaruhi hubungan antara variable bebas dan variabel terikat. Secara skematis, hubungan di antara ketiga variabel tersebut bisa diilustrasikan seperti pada gambar berikut Contoh kasus 1 Perhatikan, sebuah penelitian untuk melihat perbedaan diantara dua metode mengajar statistika, misal Metoda A dan Metode B. Jika siswa laki-laki lebih baik dengan Metode A, sedangkan siswa perempuan lebih baik dengan Metode B, maka jenis kelamin merupakan variabel mederator. Contoh Kasus 2 Misalnya pengaruh pupuk anorganik terhadap hasil tanaman padi. Hasil analisis menunjukkan tidak ada pengaruh penggunaan pupuk anorganik terhadap hasil padi, padahal secara teoritis harusnya terjadi perbedaan. Mengapa demikian?? Setelah diselidiki, ternyata ada variabel lain misalnya varietas yang tidak dimasukkan ke dalam model ataupun tidak dikontrol diseragamkan, sehingga ikut mempengaruhi keragaman hasil padi. Variabel tersebut adalah variabel moderator, yang seharusnya dimasukkan juga ke dalam model. Hal ini misalnya ditunjukkan dengan adanya perbedaan respon di antara varietas padi. Varietas unggulan lebih responsif terhadap pupuk anorganik, sedangkan varietas lokal tidak terlalu responsif bahkan cenderung hasilnya cenderung menurun. Contoh kasus 3 Pengaruh Pelatihan terhadap Prestasi kerja. Misalnya pelatihan yang diikuti staf administrasi suatu perguruan tinggi dengan harapan bisa meningkatkan ketrampilan dalam menyelesaikan tugas-tugas administrasi. Seluruh karyawan yang diikutsertakan memiliki jenjang pendidikan yang sama, D3. Setelah pelatihan selesai kemudian dilakukan tes ketrampilan. Setelah diamati, ternyata kemampuan karyawan yang berasal dari D3 Manajemen, memiliki ketrampilan yang lebih baik dibandingkan dengan karyawan yang berasal D3 Pertanian. Jelas disini bahwa adanya perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan kemampuan dalam menyerap materi yang disampaikan ketika melaksanakan pelatihan. Karyawan D3 manajemen lebih antusias dalam mengikuti Pelatihan dibandingkan dengan D3 Pertanian karena mereka relatif lebih mudah dalam memahami materi sesuai dengan bidangnya. Pada contoh kasus tersebut pelatihan adalah variabel independen, prestasi kerja adalah variabel dependen, dan latar belakang pendidikan adalah variabel moderator. Dari ketiga contoh kasus tersebut, bisa disimpulkan bahwa variabel moderator berpengaruh nyata memiliki kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. Variabel Intervening/mediator. Variabel independent dan moderator merupakan variable-variabel kongkrit. Variable tersebut dapat dimanipulasi oleh peneliti dan pengaruhnya dapat dilihat atau diobservasi. Lain halnya dengan variable intervening, variable tersebut bersifat hipotetikal artinya secara kongkrit pengaruhnya tidak kelihatan, tetapi secara teoritis dapat mempengaruhi hubungan antara variabel independent dan dependent yang sedang diteliti. Penelitian yang melibatkan variabel intervening mediator/mediating/mediasi/pengganggu sangat umum dalam bidang sosiologi dan psikologi, seperti ilmu-ilmu perilaku dan penelitian non eksperimental lainnya. Untuk peneliti di bidang eksakta terutama dalam penelitian eksperimental, mungkin tidak terlalu banyak yang mengenal atau melibatkan variabel ini, karena bersifat abstrak dan tidak bisa diukur misterius, jangan dianggap serius.. -. Lihat saja pernyataan Tuckman 1988 berikut ini “ … an intervening variable is that factor that theoretically affect the observed phenomenon merely cannot be seen, measure, or manipulate…”. Banyak siswa, saya, bahkan sebagian peneliti yang masih kesulitan dalam membedakan antara variabel moderator dengan variabel pengganggu yang satu ini, intervening mediator maksudnya 🙂. Fiveariable intervening didefinisikan sebagai variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara Variabel independent dengan Variabel dependent, tetapi tidak dapat dilihat, diukur, dan dimanipulasi; pengaruhnya harus disimpulkan dari pengaruh-pengaruh variabel independent dan atau variable moderat terhadap gejala yang sedang diteliti Tuckman, 1988. Variabel ini merupakan variabel antara penyela yang terletak diantara Variabel independent dan Variabel dependent. Variabel ini bisa digunakan dalam menjelaskan proses hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent, misalnya Ten → T → Y, dimana T adalah variabel intervening yang digunakan untuk menjelaskan pola hubungan antara 4 dan DV. Terminologi terakhir, yaitu sebagai variabel antara, konsiten dengan metodologi dan definisi dalam Analisis Struktural Equation Modelling SEM. Misalnya, 10 adalah usia dan Y adalah kemampuan membaca, hubungan sebab akibat antara X dan Y bisa dijelaskan oleh variabel Intervening T, misalnya Pendidikan. Dengan demikian, Usia X tidak secara langsung mempengaruhi kemampuan membaca Y, tapi terlebih dahulu melalui variabel intervening, pendidikan T, atau dengan kata lain, X mempengaruhi T dan selanjutnya T mempengaruhi Y. Contoh Tingkat pendidikan → jenis pekerjaan → tingkat penghasilan Metode mengajar → motivasi belajar → Prestasi siswa Teknologi baru → budaya → Respon masyarakat Usia → Pengalaman mengendarai → kelihaian mengendarai sepeda motor Valentinno Rossi, misalnya, - Contoh di bidang pertanian Pengaruh pemberian pupuk anorganik terhadap hasil padi. Misalnya saja, varietas sudah dimasukkan ke dalam model atau varietasnya dibuat sama varietas unggulan, tetapi hasinya tetap saja tidak signifikan. Mengapa?? Setelah diteliti secara seksama, ternyata tanaman padi yang di beri pupuk tersebut misalnya menjadi rentan terhadap serangan penyakit/hama sehingga sebagian besar lahan terkena serangan hama/penyakit, akibatnya hasil padi tidak meningkat. Variabel Intervening adalah Serangan Penyakit/Hama. Hubungan ke-4 Variabel Tambahan Terdapat beberapa literatur yang mengatakan ada variabel lain selain variabel yang sudah disebutkan di atas, yaitu Variabel Kontrol. Variabel kontrol adalah variabel yang dikendalikan atau dibuat konstan sehingga pengaruh variabel contained terhadap variabel dependent tidak dikacaukan oleh pengaruh faktor lain yang tidak kita diamati. Dengan kata lain, variabel lain yang dapat mempengaruhi hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent, berusaha dihilangkan atau di netralkan atau di kontrol atau diseragamkan! Dengan demikian, diharapkan variabel yang memberi keragaman terhadap variabel dependent hanyalah variabel independent yang ingin dipelajari pengaruhnya, yang dikenal dengan perlakuan atau treatment! Paradok “Variabel kontrol adalah variabel yang dibuat konstan sehingga tidak bervariasi atau seragam.. ” – vs – “suatu objek bisa dikatakan variabel apabila nilainya beragam, apabila tidak, tidak lagi dinamakan variabel tapi konstanta” Berarti??!! Bingung kan?? variabel kontrol apa konstanta?? Menurut saya, mungkin lebih tepat apabila variabel kontrol ini menggunakan istilah variabel yang di kontrol Controlled Variable. Berdasarkan cara pengukuran Kuantitatif diskrit/kontinyu Rasio Interval Kualitatif Ordinal à ada tingkatan Nominal à tidak ada tingkatan Berdasarkan bisa/tidaknya diukur secara langsung Variabel teramati observed variable Dapat langsung diamati/diukur Contoh umur, jenis kelamin, berat badan Variabel laten latent variable Tidak dapat langsung diamati/diukur Contoh kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, kesehatan Umumnya diukur dengan menggunakan indikator yang berupa variabel teramati, biasanya lebih dari dua variabel indikator. Reff/Link Statistical Mediation Mediation Moderator GORDON MARSHALL. “intervening variable.” A Lexicon of Sociology. 1998. 23 Feb. 2010 < Tuckman, B. W. 1988. Conducting educational research . 3rd ed. New York Harcourt Brace Jovanovich.
Perhatikan data berikut! Kesimpulan yang tepat berdasarkan tabel tersebut adalah …. A. negara A mengalami pembangunan ekonomi, sedangkan negara B mengalami pertumbuhan ekonomi B. negara A mengalami pertumbuhan ekonomi, sedangkan negara B mengalami pembangunan ekonomi C. negara A dan negara B mengalami pembangunan ekonomi D. negara A dan negara B mengalami pertumbuhan ekonomi E. negara A dan negara B tidak mengalami pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Pembahasan Kesimpulan yang tepat berdasarkan tabel tersebut adalah negara A mengalami pertumbuhan ekonomi, sedangkan negara B mengalami pembangunan ekonomi. Jawaban B - Jangan lupa komentar & sarannya Email nanangnurulhidayat
a. Rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas adalah mengenai pemuaian volume. Ketiga benda ini dipanaskan, dan meningkat volumenya akibat pemanasan memuai. b. Berdasarkan masalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya Kesimpulanya adalah benda-benda akan memuai mengalami penambahan volume bila benda tersebut dipanaskan. Ini terlihat dari peningkatan volume seiring peningkatan suhu. Dari ketiga benda di atas, alkohol memiliki kofisien pemuaian volume yang paling besar, sebab pemuaian yang terjadi akibat pemanasan paling besar. Pembahasan Pemuaian volume adalah penambahan volume permukaan benda saat menerima kalor atau panas. Contohnya adalah peningkatan volume panci logam saat dipanaskan. Rumus pemuaian volume Vt = Vp 1 + γ. Δt dimana Vt = volume akhir dalam satuan m³, cm³ Vo = volume awal dalam satuan m³, cm³ γ = koefisien muai volume dalam satuan /°C Δt = perbedaan suhu dalam satuan °C Disini terlihat bahwa volume akhir berbanding lurus dengan koefisien pemuaian, sehingga semakin besar pemuaian yang etrjadi, menunjukkan koefisien pemuaian yang lebih besar pula. Pelajari lebih lanjut 1. Panjang sebatang baja pada 20°C adalah 40cm. jika koefisien muai panjang baja 0,00002/°C, berapa panjangnya pada suhu 70°C? 2. Jabarkan pengertian pemuaian pada benda yg mencakup panjang luas, volume! - Detail Jawaban Kode Kelas VII Mata Pelajaran Fisika Materi Bab 7 - Suhu, Pemuaian, dan Kalor Kata Kunci Kalor Jenis, Pemanasan
Home » IPA SMP , Kunci Jawaban , Suhu dan Perubahannya » [Kunci Jawaban] Perhatikan tabel hasil percobaan tentang pemuaian zat cair berikut ini a. Rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas! b. Berdasarkan masalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya? [Kunci Jawaban] Perhatikan tabel hasil percobaan tentang pemuaian zat cair berikut ini a. Rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas! b. Berdasarkan masalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya? Pertanyaan Perhatikan tabel hasil percobaan tentang pemuaian zat cair berikut ini a. Rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas! b. Berdasarkan masalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya? Soal Latihan Bab Suhu dan Perubahannya Mata Pelajaran IPA BSE Kurikulum 2013 Revisi 2016 Semester 1 Kelas 7, Kemendikbud Jawabana. Rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas! 1 Berapa besar perubahan muai volume pada masing-masing zat? 2 Berapa nilai koefisien muai volume dari masing-masing zat? b. Kesimpulan 1 Perubahan muai volume V V air = V – Vo V air = 404,2 – 400 = 4,2 mL V minyak goreng = V – Vo V minyak goreng = 414,5 – 400 = 14,5 mL V alkohol = V – Vo V alkohol = 422 – 400 = 22 mL 2 Koefisien muai volume masing-masing zat γ Diketahui V0 = 400 mL V air = 4,2 mL V minyak goreng = 14,5 mL V alkohol = 22 mL T0 = 30oC T = 80oC Ditanyaa. γ air? b. γ minyak goreng? c. γ alkohol? Dijawab a. γ air? b. γ minyak goreng? c. γ alkohol? Gambar 1. Rumus perubahan muai volume. Jika kalian merasa postingan kami bermanfaat, silakan ikuti kami di Website loading... loading...
Perhatikan tabel hasil percobaan tentang pemuaian zat cair berikut ini. Jenis Zat cair~Volume pada suhu30 derajad Cml~Volume pada suhu80derajad Cml Air 400 404,2Minyak goreng 400 414,5 Alkohol 400 422,0a. Rumuskan masalah yang sesuai dengan tabel di atas!b. Berdasarkan masalah dan data tabel tersebut, apa kesimpulannya? Masalah yang sesuai dengan tabel adalah perbedaan volume setelah zat cair dengan volume sama dipanaskan pada perubahan suhu yang sama. Kesimpulan berdasarkan masalah dari tabel adalah setiap zat cair memiliki koefisien muai volume yang berbeda – beda Pembahasan PEMUAIAN ZAT Benda apapun saat dipanaskan pada umumnya akan mengalami pemuaian. Ada tiga jenis pemuaian 1. Pemuaian Panjang ΔL = Lo × α × ΔT ΔT = T akhir – T awal L = Lo + ΔL L = Lo + Lo × α × ΔT L = Lo 1 + α × ΔT Dimana L = panjang setelah pemanasan Lo = panjang sebelum dipanaskan α = koefisien muai panjang\°C ΔL = perubahan panjang ΔT = perubahan suhu 2. Pemuaian Luas ΔA = Ao × β × ΔT A = Ao + ΔA A = Ao + Ao × β × ΔT A = Ao 1 + β × ΔT Dimana A = luas setelah pemanasan Ao = luas sebelum dipanaskan β = koefisien muai luas \°C ΔA = perubahan luas β = 2 × α 3. Pemuaian Volume ΔV = Vo × γ × ΔT V = Vo + ΔV V = Vo + Vo × γ × ΔT V = Vo 1 + γ × ΔT γ = 3 × α Dimana V = volume setelah pemanasan Vo = volume sebelum dipanaskan γ = koefisien muai volume \°C ΔV = perubahan volume Diket To = 30 °C Ta = 80 °C Air ⇒ Vo = 400 mL ⇒ V = 404,2 mL Minyak goreng ⇒ Vo = 400 mL ⇒ V = 414,5 mL Alkohol ⇒ Vo = 400 mL ⇒ V = 422,0 mL Dit A. Masalah yang sesuai dengan tabel ? B. Kesimpulan dari masalah di A? Penjelasan A. Perubahan suhunya semua sama. ΔT = Ta – To = 80 °C – 30 °C = 50 °C Vo semua sama. V berbeda – beda. Jadi masalah yang ada adalah perbedaan volume setelah zat cair dengan volume sama dipanaskan pada perubahan suhu yang sama. B. Berdasarkan rumus V = Vo 1 + γ × ΔT karena ΔT dan Vo semua semua data sama, tetapi hasil V berbeda – beda, hal ini membuktikan bahwa hanya γ yang berbeda – beda pada setiap cairan. Kesimpulannya, setiap zat cair memiliki koefisien muai volume yang berbeda – beda. Pelajari lebih lanjut pada tugas Pemuaian Panjang Pemuaian Zat Cair Pemuaian Volume Zat Padat Kategorisasi Mapel Fisika Kelas XI Materi Suhu dan Kalor Kode Kategorisasi Kata Kunci Koefisien Muai Volume, Volume Awal, Volume Akhir, Perubahan Suhu
berdasarkan masalah dan data tabel tersebut apa kesimpulannya